Misteri Sidat: Ikan yang Tidak Bisa Bertelur di Kolam dan Harus Memijah di Laut Dalam
Sidat, Ikan Unik dengan Perjalanan Hidup yang Menakjubkan
Ikan sidat merupakan salah satu ikan yang memiliki siklus hidup paling unik di dunia. Berbeda dengan ikan budidaya lainnya seperti lele, nila, atau gurame yang dapat berkembang biak di kolam, sidat hingga saat ini belum dapat dipijahkan secara alami di kolam budidaya. Sidat harus melakukan perjalanan jauh menuju laut dalam untuk berkembang biak.
Fenomena ini membuat sidat menjadi salah satu komoditas perikanan yang sangat istimewa dan bernilai tinggi. Bahkan hingga sekarang, benih sidat yang dibudidayakan masih banyak berasal dari hasil tangkapan alam berupa glass eel (benih sidat transparan) yang bermigrasi dari laut menuju sungai.
Mengapa Sidat Tidak Bisa Bertelur di Kolam?
Sidat termasuk ikan katadromus, yaitu ikan yang sebagian besar hidup dan tumbuh di perairan tawar seperti sungai, danau, rawa, maupun kolam budidaya, tetapi berkembang biak di laut.
Ketika sidat telah mencapai kematangan gonad, tubuhnya mengalami perubahan yang disebut fase silver eel. Pada fase ini:
- Warna tubuh menjadi lebih mengkilap.
- Mata membesar untuk membantu penglihatan di laut dalam.
- Sistem pencernaan mulai berhenti berfungsi karena sidat tidak lagi fokus mencari makan.
- Energi tubuh dialihkan untuk proses reproduksi dan migrasi.
Pada tahap ini sidat akan meninggalkan sungai dan memulai perjalanan menuju laut dalam untuk memijah.
Perjalanan Ribuan Kilometer Menuju Laut Dalam
Sidat dikenal sebagai perenang tangguh. Beberapa spesies sidat mampu menempuh perjalanan ribuan kilometer dari sungai menuju lokasi pemijahan di laut.
Sebagai contoh:
- Sidat Eropa (Anguilla anguilla) bermigrasi menuju Laut Sargasso di Samudra Atlantik.
- Sidat Jepang (Anguilla japonica) bermigrasi ke wilayah Samudra Pasifik bagian barat dekat Palung Mariana.
- Sidat tropis Indonesia seperti Anguilla bicolor dan Anguilla marmorata diduga memijah di perairan laut dalam Samudra Hindia dan Pasifik.
Perjalanan tersebut dapat memakan waktu berbulan-bulan hingga lebih dari satu tahun.
Bertelur di Kedalaman Laut Tertentu
Para ilmuwan menemukan bahwa sidat tidak memijah di sembarang tempat. Pemijahan terjadi di laut lepas pada kedalaman tertentu yang memiliki kondisi lingkungan khusus.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemijahan sidat umumnya terjadi pada kedalaman sekitar 150–300 meter, sementara migrasi menuju lokasi pemijahan dapat dilakukan pada kedalaman yang lebih besar lagi, bahkan mencapai ratusan meter pada siang hari.
Kondisi yang dicari sidat meliputi:
- Suhu air yang sesuai.
- Salinitas tertentu.
- Arus laut yang dapat membantu penyebaran larva.
- Kondisi cahaya yang sangat minim.
Setelah bertelur dan membuahi telur, sidat dewasa dipercaya akan mati. Karena itu, sebagian besar sidat hanya memijah satu kali sepanjang hidupnya.
Dari Telur Menjadi Glass Eel
Telur yang menetas akan berubah menjadi larva berbentuk pipih transparan yang disebut leptocephalus.
Larva ini kemudian terbawa arus laut selama berbulan-bulan hingga mendekati pantai. Saat mendekati muara sungai, bentuk tubuhnya berubah menjadi glass eel, yaitu benih sidat transparan yang sering ditangkap nelayan.
Glass eel kemudian masuk ke sungai dan tumbuh menjadi:
- Elver
- Yellow eel
- Silver eel
Setelah dewasa, siklus hidup tersebut akan terulang kembali dengan migrasi ke laut untuk memijah.
Tantangan Budidaya Sidat
Karena sidat tidak dapat berkembang biak secara alami di kolam, budidaya sidat menghadapi tantangan besar dalam penyediaan benih.
Berbagai lembaga penelitian di dunia telah berhasil melakukan pemijahan buatan menggunakan teknologi hormon dan lingkungan terkontrol. Namun, produksi benih secara massal masih sulit dan membutuhkan biaya tinggi.
Inilah salah satu alasan mengapa sidat memiliki nilai ekonomi yang tinggi di pasar internasional, terutama di negara-negara Asia seperti Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok.
Penutup
Sidat adalah ikan yang menyimpan banyak misteri. Meskipun hidup dan tumbuh di sungai atau kolam budidaya, sidat tidak dapat bertelur di lingkungan tersebut. Untuk berkembang biak, sidat harus bermigrasi ke laut dalam dengan kedalaman tertentu yang menyediakan kondisi ideal untuk pemijahan. Setelah bertelur, sidat dewasa mengakhiri siklus hidupnya, sementara generasi baru memulai perjalanan panjang kembali menuju sungai.
Keunikan inilah yang menjadikan sidat sebagai salah satu ikan paling menakjubkan sekaligus paling menantang untuk dibudidayakan di dunia perikanan.



