IFish: Inisiatif untuk Konservasi dan Pemanfaatan Berkelanjutan Perikanan Darat di Indonesia
Pengantar Proyek IFish

IFish adalah proyek yang diinisiasi oleh FAO (Food and Agriculture Organization of the United Nations) bekerja sama dengan KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan) Indonesia dengan dukungan dari GEF (Global Environment Facility). Proyek ini bertujuan untuk mengarusutamakan nilai-nilai konservasi keanekaragaman hayati perairan darat dan mempromosikan pemanfaatan yang berkelanjutan pada praktik perikanan darat, khususnya di ekosistem perairan darat yang memiliki nilai konservasi tinggi.
Dimulai pada tahun 2017, IFish melaksanakan tiga strategi utama:
- Pengarusutamaan Prinsip Keanekaragaman Hayati: Memasukkan prinsip keanekaragaman hayati perairan darat ke dalam pembangunan sumber daya dan kebijakan pengelolaan perikanan.
- Demonstrasi Konservasi dan Pemanfaatan Berkelanjutan: Melakukan demonstrasi di sejumlah habitat kritis di Indonesia.
- Pemantauan dan Penilaian Efektif: Membangun mekanisme pemantauan yang efektif untuk memastikan keberlanjutan praktik perikanan darat.
Proyek ini memiliki lima wilayah demonstrasi di Indonesia, dengan fokus pada ikan bernilai tinggi di masing-masing wilayah: sidat di Jawa (Cilacap dan Sukabumi), arwana dan perikanan beje di Kalimantan (Barito Selatan dan Kapuas), serta belida di Sumatera (Kampar). Karena perikanan darat umumnya diusahakan oleh industri skala kecil dan komunitas masyarakat di sepanjang aliran sungai, perlindungan ekosistem dan pengelolaan perikanan darat secara berkelanjutan memiliki dampak besar pada peningkatan ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat yang bergantung pada keanekaragaman hayati perairan darat.
Percontohan Perikanan Sidat di Kampung Sidat Kaliwungu
Salah satu upaya yang dilakukan oleh IFish adalah pendampingan di Kampung Sidat Kaliwungu, Kabupaten Cilacap, yang dimulai sejak 2018. Kampung Sidat ini diresmikan pada 22 November 2018 oleh perwakilan dari Kementerian Kelautan Perikanan, FAO Indonesia, serta Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Cilacap. Peresmian tersebut dihadiri oleh lebih dari 400 orang, termasuk anggota Koperasi Mina Sidat Bersatu, perusahaan budi daya sidat, akademisi, serta lembaga swadaya masyarakat.
Dalam rangkaian acara peresmian Kampung Sidat, diadakan pelatihan tentang praktik budi daya sidat yang berkelanjutan untuk anggota koperasi dan komunitas masyarakat. Penyadartahuan tentang kelestarian lingkungan juga dilakukan melalui kegiatan bersih sungai dan pelatihan penggunaan probiotik untuk menjaga kualitas air dan ekosistem sungai.
Sejak mendapatkan pendampingan dari FAO, Koperasi Mina Sidat Bersatu terus berkembang. Koperasi ini juga berkomitmen untuk mengalokasikan 2,5% panen sidatnya untuk dilepasliarkan, mengingat bibit sidat hingga saat ini belum bisa dipijahkan. Jangan sampai sidat Indonesia masuk ke dalam IUCN Red List, karena tidak bisa kita budi dayakan lagi.
Proyek IFish mendukung inisiatif lestari ini melalui survei lokasi yang sesuai untuk pelepasliaran dan mekanisme pemantauan untuk sidat yang dilepasliarkan. Selain itu, proyek juga mendukung kegiatan demonstrasi pembesaran bibit sidat untuk menurunkan tingkat kematiannya.
Pemanfaatan Produk Sampingan Sidat untuk Nutrisi dan Ekonomi
Sejak tahun 2022, Koperasi Mina Sidat Bersatu dengan dukungan proyek IFish-FAO telah berhasil memanfaatkan produk sampingan sidat untuk menghasilkan nutrisi tambahan dan sumber pemasukan. Setiap bulannya, sekitar dua ton sidat diolah menjadi berbagai produk, termasuk unagi kabayaki—hidangan fillet sidat yang dipanggang dengan olesan kecap khas Jepang. Dari total produksi ini, sekitar 700 kg di antaranya adalah produk sampingan seperti tulang, sirip, hati, dan kepala yang sebelumnya tidak dimanfaatkan.
Proyek IFish berkolaborasi dengan para pegiat kuliner untuk menciptakan resep yang mudah direplikasi dan memiliki cita rasa khas. Produk sampingan ini tidak hanya memiliki kandungan gizi yang tinggi, tetapi juga dapat dipasarkan sebagai oleh-oleh, yang sesuai dengan prinsip zero waste dan ramah lingkungan.
Data studi status gizi Indonesia tahun 2021 menunjukkan bahwa 17,9% warga di Cilacap mengalami masalah stunting. Ikan sidat, yang kaya akan omega-3 dan omega-6, memiliki potensi besar sebagai sumber nutrisi untuk mengatasi masalah ini. Namun, karena harga fillet sidat yang masih relatif mahal, produk sampingan yang diolah menjadi makanan bergizi menjadi alternatif yang lebih terjangkau bagi masyarakat.
Selain itu, proyek ini juga memberdayakan perempuan di Kampung Sidat dan sekitarnya untuk memanfaatkan produk sampingan sidat. Produk-produk olahan ini tidak hanya menyediakan nutrisi yang baik bagi tubuh, tetapi juga berkontribusi pada pengurangan angka stunting dan memberikan pemasukan tambahan bagi keluarga. Di Jepang, olahan dari produk sampingan sidat sangat digemari dan memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi.
Kesimpulan
Inisiatif IFish dan Koperasi Mina Sidat Bersatu menunjukkan bahwa dengan pemanfaatan yang tepat, produk sampingan perikanan dapat menjadi sumber nutrisi dan pemasukan yang berkelanjutan bagi masyarakat. Dengan pendekatan konservasi yang terintegrasi dan pemanfaatan yang efisien, proyek ini memberikan kontribusi besar dalam menjaga keanekaragaman hayati perairan darat Indonesia serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Proyek ini juga menekankan pentingnya pemberdayaan komunitas dan perempuan dalam mencapai tujuan pembangunan yang berkelanjutan.
Sumber: FAO (Food and Agriculture Organization of the United Nations). Tak Ada Sidat yang Terbuang: Kampanye Pemanfaatan Produk Sampingan Ikan Sidat yang Kaya Akan Nutrisi
